Komunitas Kendaraan Listrik Indonesia




Senin, 09 September 2019

Jumlah Impor Minyak Indonesia Untuk Kebutuhan Dalam Negeri



[9 Sept] Indonesia tidak hanya mengandalkan produksi minyak dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM), tapi juga impor. Lantas, berapa jumlah impornya?

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan, kebutuhan BBM dalam negeri sebesar 1,3 juta barel per hari (bopd) di tahun 2017. Lanjutnya, kebutuhan BBM itu dipenuhi dari produksi minyak mentah dalam negeri, impor minyak mentah, dan impor BBM.

Jelas Arcandra, untuk produksi minyak mentah sebanyak 525 ribu bopd atau sekitar 59% berasal dari dalam negeri. Minyak mentah dari impor sendiri sebesar 360 ribu bopd atau mengambil porsi 41%. Secara total, jumlah minyak mentah yang diproduksi mencapai 885 ribu barel bopd.

Namun, minyak mentah ini tak semuanya menjadi BBM. Menurut Arcandra, setelah masuk kilang, minyak mentah yang menjadi BBM sebesar 680 ribu bopd.

"Nah, dari kilang ini apakah 885 ribu bopd akan menghasilkan semuanya produk yang punya valuenya? Enggak, ini menghasilkan sekitar 680 ribu barel produk, produknya gasoline, gasoil, avtur dan lain-lain. Yang punya value di atas harga ICP 680 ribu barel. Kebutuhan kita berapa, kebutuhan kita sehari itu sekitar 1,3 juta barel per hari, kita produksi 680 ribu," terang Arcandra kepada detikFinance dalam acara Blak-blakan di Kementerian ESDM, Jumat (7/9/2018).

Tentu, jumlah BBM yang diproduksi itu masih belum memenuhi kebutuhan BBM nasional sebesar 1,3 juta bopd. Sisanya, kata dia, dipenuhi dari impor BBM atau bukan minyak mentah lagi. Jumlah BBM yang diimpor sendiri sebesar 370 ribu bopd. Selanjutnya, untuk memenuhi pasokan BBM, Indonesia juga memanfaatkan biodiesel atau BBM yang berasal dari sawit sebesar 50 ribu bopd.

"Impor BBM kita 370 ribu bopd. Ini ditambah ini, kemudian 2017 FAME ada, biodiesel dari CPO, ini hanya menyumbang 50 ribu per day. Kalau ditotal jumlahnya 1.100 ribu (1,1 juta) bopd ini yang dihasilkan Pertamina, dari kilang sendiri, dari impor, jadi Pertamina memenuhi 1.100 ribu sisanya siapa? Badan usaha lain non-Pertamina. Sisanya badan usaha lain menyumbang 235 ribu bopd. Jadi kalau kita total kebutuhan kita sehari-hari 1.335 ribu (1,335 juta) bopd," jelas Arcandra.

Dengan demikian, Indonesia masih mengimpor minyak mentah sebesar 360 ribu bopd dan 370 ribu bopd BBM. "Ini neraca kita sehari-hari, kita butuh impor BBM 370 ribu, kita impor crude 360 ribu, imbang antara impor BBM dan crude," tutupnya.


Menjadi Net Importir Sejak 2004

Lain dahulu lain sekarang, mungkin ungkapan itu pas untuk melukiskan kondisi industri minyak dan gas ( migas) Indonesia. Kalau dahulu pada era Orde Baru berkuasa, negeri ini terkenal sebagai produsen dan eksportir utama minyak di dunia, maka sekarang malah sebaliknya.

Ya, pada masa Soeharto berkuasa negeri ini memang masuk dalam jajaran negara penghasil minyak terbesar di dunia. Data BP World Statistic pada 2012 mencatat kalau produksi minyak bumi Indonesia pernah mencapai 1,65 juta barrel per hari pada 1977.

Capaian itu, membuat republik ini masuk dalam jajaran 11 negara produsen minyak terbesar di dunia. Saat itu, Indonesia sebagai anggota organisasi negara-negara pengekspor minyak ( OPEC) pun memiliki pengaruh yang lumayan besar.

Dari segi pendapatan negara, industri migas nasional kala itu juga memberikan sumbangan yang besar kepada penerimaan nasional. Hasil riset Reforminer Institute menyatakan, pada medio 1970-1990 sektor migas memberikan sumbangan 62,88 persen terhadap penerimaan negara. Nilai ekspor migas Indonesia pun mencapai 20,66 miliar dollar AS.

Namun kini, kenyataan berkata lain. Republik ini malah harus mengimpor minyak bumi untuk menyokong kebutuhan energi. Hal tersebut, dilakukan karena Indonesia sudah tak mampu lagi memenuhi kebutuhan minyak nasional. Bahkan, sejak tahun 2004, Indonesia telah menyandang status sebagai net importer minyak.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar