Kamis, 15 Agustus 2019

Mulai Meninggalkan Bisnis Minyak, Pertamina: Kami Tidak Punya Pilihan

[15 Aug] Presiden Joko Widodo kembali mengingatkan bahwa era kejayaan minyak dan komoditas yang selama ini menjadi penopang ekonomi Indonesia sudah mulai lewat. Pemeritah, kata Jokowi, akan fokus pada peningkatan kualitas SDM sebagai pondasi pembangunan ekonomi Indonesia.

"Kejayaan minyak dan kayu sudah selesai, kejayaan komoditi SDA sudah hampir selesai, fondasi kita ke depan percayalah SDM kita yang berkualitas," ujar Jokowi.

Berdasarkan catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), produksi minyak masih terus berada dalam tren penurunan, setidaknya sejak tahun 2012. Terlebih dalam tahun terakhir, angka produksi migas selalu berkurang dari tahun ke tahun.

Penyebab utamanya adalah kondisi cadangan migas yang memang terbatas.

Menanggapi hal ini, Direktur Hulu PT Pertamina (Persero) Dharmawan Samsu menuturkan, pihaknya tengah melakukan diversifikasi untuk tidak hanya berkutat pada eksplorasi minyak dan gas saja, tetapi juga energi terbarukan.

"Sudah (diversifikasi), kami tidak punya pilihan," kata Dharmawan saat dijumpai dalam gelaran Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition, Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Lebih lanjut, Dharmawan menyebutkan, ada lima pilar yang menjadi patokan perusahaan dalam upaya memperkuat energi terbarukan, yakni panas bumi, biofuel, green refineries, geo-source atau sumber-sumber energi lain selain panas bumi yang berasal dari alam, dan baterai & kendaraan listrik.

"Itu semua kami dalami dengan intens, kalau di sektor hulu, lebih kembangkan di panas bumi dan geo-source," jelas Dharmawan.

Kendati demikian, Dharmawan juga tidak mengesampingkan bisnis migas. Sebab, menurutnya perlu diingat juga bahwa sumber pendapatan perusahaan sampai hari ini dari proyek migas eksisting.

"Jadi, kami juga tetap kembangkan bagaimana itu sustainable karena dikaitkan dengan kilang yang sedang ditingkatkan, tidak hanya dari dalam negeri tapi juga luar negeri," pungkasnya.


Kondisi Sektor Minyak

"Kondisi cadangan migas kita [Indonesia] tidak berubah dalam 10 tahun terakhir. Kita hanya memiliki kurang dari 0,5% terhadap total cadangan minyak dunia. Begitu pun juga gas, tidak lebih dari 2% terhadap total cadangan gas dunia," ujar Dirjen Migas Kementerian ESDM, Ego Syahrial dalam Forum Fasilitas Produksi Migas, Selasa (9/7/2019).

Di sisi lain, sumur-sumur migas yang sudah semakin tua pada akhirnya memang akan mempengaruhi tingkat produktivitas. Wajar saja, semakin lama dieksploitasi, cadangan migas pada sumur tersebut akan semakin surut dan sulit diambil.

Selain itu sudah sejak lama industri minyak Tanah Air tidak dikejutkan dengan kabar penemuan cadangan raksasa migas raksasa (giant discovery).

Memang, sebelumnya SKK Migas pernah mengungkapkan adanya temuan cadangan migas raksasa. Melalui pusat data Indonesia Oil and Gas Institute (IOGI), SKK Migas mampu memetakan potensi cadangan minyak dan gas besar di Indonesia.

"Dari pemetaan tersebut, IOGI mengevaluasi lebih lanjut 19 cekungan produksi yang memiliki 126 proven plays dan mendapatkan potensi sumber daya 'yet to find' sebesar 8,3 miliar setara barel minyak (boe)," tutur Dwi Soetjipto, Selasa (30/4/2019).

Seperti halnya penemuan cadangan gas yang signifikan di Wilayah Kerja Sakakemang, Sumatra Selatan. Dwi menuturkan, ditemukannya blok tersebut tidak terlepas dari hasil evaluasi SKK Migas dalam memetakan sepuluh area potensial giant discovery.

Selain Sumatra Selatan, lanjutnya, masih terdapat sembilan area potensial giant discovery lainnya yang berlokasi di Sumatra Utara, Sumatra Tengah, Tarakan Offshore, North East Java-Makassar Strait, Kutai Offshore, Buton Offshore, Northern Papua, Bird Body Papua, dan Warim Papua.

Selain itu, hasil evaluasi menunjukkan terdapat lima cekungan yang berpotensi menemukan giant and significant discovery, yaitu Cekungan Sumatra Utara, Sumatra Selatan, North East Java, Kutai, dan Pre-Tertiary Passive Margin.

"Indonesia masih berpeluang menemukan paling tidak dua giant fields dengan masing-masing sumberdaya di tempat sebesar 770 juta boe," imbuhnya.

Dwi menambahkan, secara konkrit, kontribusi yang diberikan bukan hanya melalui analisis seperti 'yet to find', tetapi juga melalui Yearly Indonesia Upstream Oil and Gas Outlook, publikasi berkala setiap semester, focus group discussion, dan benchmarking tools yang dapat diberikan kepada para pemangku kepentingan.

Adapun, merujuk pada data dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), realisasi lifting minyak dan gas bumi (migas) hingga Juni 2019 baru mencapai 89% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang sebesar 2 juta barel setara minyak per hari (boepd).

Total lifting migas sebesar 1,8 juta boepd itu dengan rincian, lifting minyak 752 ribu barel per hari (bopd) dan lifting gas 1,06 juta boepd. Target lifting migas 2019 diproyeksikan tercapai di semester II-2019, mengingat 9 dari 11 proyek yang akan mulai berproduksi (onstream) di kuartal tiga dan kuartal empat tahun 2019.

Tanpa adanya penemuan cadangan migas baru, SKK Migas memperkirakan tren penurunan produksi akan terus berlanjut setidaknya hingga 2050. Sebagai informasi, saat ini Indonesia memiliki 210 Wilayah Kerja (WK) Migas. Namun 36 diantaranya sudah memasuki tahap terminasi. Sementara WK yang dalam tahap eksplorasi hanya 84.

Jumlah WK eksplorasi migas saat ini sudah turun jauh dibanding tahun 2013, dimana saat itu masih sebanyak 187.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar