Jumat, 09 Agustus 2019

PT. Garuda Indonesia Garap Kargo Pakai Drone Demi Efisiensi

[9 Aug] Pemanfaatan teknologi terus berkembang termasuk di antaranya di sektor industri jasa pengiriman kargo udara. PT Garuda Indonesia dalam waktu dekat berencana memanfaatkan teknologi drone atau pesawat tanpa awak untuk jasa pengiriman kargo.

Penggunaan drone, kata Direktur Utama Garuda Indonesia IGN Askhara Danadiputra, lebih efisien dalam hal konsumsi bahan bakar dan penggunaan tenaga kerja.

Drone hanya memerlukan seorang pilot yang mengoperasikannya dari jarak jauh. Berbeda dengan pesawat konvensional yang butuh satu set lengkap awak pesawat dalam sekali penerbangan.

"Kami akan masuk ke bisnis cargo drone, supaya lebih efisien," tutur pria yang akrab disapa Ari Askhara itu saat berbincang dengan awak media akhir pekan lalu. Selain itu, faktor keselamatan juga menjadi pertimbangan perusahaan.

"Drone akan digunakan kirim barang ke daerah pelosok seperti Papua yang bergunung-gunung dan berbukit-bukit. Risiko penerbangannya sangat tinggi. Kalau pakai drone kan lebih aman," sebut Ari.

Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha M Iqbal dalam kesempatan yang sama menjelaskan, drone produksi pabrikan Beihang asal China itu bisa mengangkut kargo dengan beban total 5 ton.

"Saat ini mereka punya yang 1,2 ton dan itu sudah digunakan militer Amerika Serikat. Beihang ini satu-satunya yang punya drone seperti ini. Nah, mereka sedang kembangkan yang bisa 5 ton," beber dia.

"Drone yang ingin kami datangkan senilai US$1 juta per unit, sedangkan ATR 72-600 saja sampai US$22 juta per unit. Itu belum dihitung biaya lain seperti pilot dan set kru," kata Askhara, Minggu (31/3/2019).

Dia menambahkan pada tahap awal sebanyak 3 unit akan didatangkan. Pengiriman kargo untuk jarak jauh masih akan menggunakan pesawat konvensional seperti A330-300 atau B737-800 NG untuk jarak menengah.

BZK-005, yang juga digunakan sebagai alat pengintai untuk keperluan militer tersebut, mampu terbang dengan jarak maksimal hingga 1.200 km pada ketinggian 5.000 m. Adapun, waktu terbang maksimal selama 4--5 jam dengan kecepatan hingga 300 km/jam.

Askhara menilai pengoperasian drone sangat cocok untuk menjangkau bandara daerah terpencil. Drone hanya membutuhkan panjang landas pacu untuk lepas landas maupun mendarat minimal 600 m.

Selama ini, imbuhnya, drone hanya digunakan untuk kepentingan militer guna mengangkut misil. Beihang merupakan satu-satunya pabrikan yang memproduksi drone untuk keperluan komersil.

Askhara Danadiputra mengatakan alasan penggunaan drone tersebut karena dinilai lebih efisien dan meminimalkan risiko. Di sisi lain, investasi untuk pesawat tersebut lebih murah dibandingkan dengan jenis konvensional.

Dia menambahkan tarif kargo tidak bisa diturunkan lebih rendah lagi apabila maskapai tetap menggunakan pesawat konvensional. Terlebih, tarif kargo saat ini hanya cukup untuk menutup biaya operasional.

Penggunaan drone dinilai lebih efisien karena tidak membutuhkan bahan bakar yang banyak. Selain itu, mengurangi biaya pegawai dalam bentuk set kru seperti pada pesawat konvensional.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar