Komunitas Kendaraan Listrik Indonesia




Jumat, 16 Agustus 2019

Bus Listrik di Indonesia Dimulai 2020, Pangkas 48 Persen Polusi Dan Lebih Hemat 70 Persen

[16 Aug] Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) menyebutkan dua ribu bus listrik mulai diproduksi tahun 2020 untuk mendukung upaya pemerintah menekan polusi udara khususnya di kawasan Jakarta dan kota sekitarnya.

"Sekarang bus listrik produk Mobil Anak Bangsa sudah mulai diujicoba oleh PPD (Pengangkutan Penumpang Djakarta) dan mudah-mudahan mulai saat ini sampai tahun depan mereka sudah bisa menghasilkan," kata Kepala BPTJ Bambang Prihartono dalam diskusi dengan media di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, pengadaan bus listrik tersebut salah satunya dilakukan oleh swasta yakni perusahaan otobus.

Ia mendorong hingga lima tahun mendatang sudah ada 41 ribu bus dan kendaraan angkutan umum dengan bahan bakar listrik.

Nantinya, bus listrik itu akan digunakan untuk kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Jumlah bus listrik hingga lima tahun itu, kata dia, masih terbilang kecil dibandingkan jumlah motor saat ini di Jabodetabek yang diperkirakan mencapai 13 juta dan tiga juga roda empat.

Ukuran bus listrik itu, lanjut dia, berukuran besar dan medium termasuk ukuran lebih kecil seperti angkot juga disiapkan dengan tenaga listrik.

"Sedang disiapkan, sekarang lagi proses perizinan dan tahun depan berproduksi," imbuhnya.

BPTJ, lanjut dia, juga menyiapkan peta jalan untuk menyediakan stasiun pengisian daya listrik untuk bus tahun 2029.

"Setiap dua kilometer sudah ada colokan tapi sementara ini per terminal ada stasiun pengisjannya," ucapnya.

Adanya target bus listrik itu, kata dia, untuk mengakomodasi perpindahan masyarakat yang beralih menggunakan transportasi umum ketika Pemprov DKI Jakarta memberlakukan perluasan sistem ganjil genap.

Upaya tersebut diambil untuk menekan angka polusi udara di ibu kota yang tidak sehat.


Sanggupkah Dalam Negeri Memproduksi dan Seberapa Hemat Bus Listrik?

PT Mobil Anak Bangsa (MAB) selaku produsen bus listrik dalam negeri mengklaim mampu merakit 100 bus ramah lingkungan itu dalam waktu sebulan.

"Kami dalam tahap pengembangan prototipe ketiga. Prosesnya pun telah masuk dalam tahap uji tipe di Kementerian Perhubungan," ujar Presiden Direktur PT Mobil Anak Bangsa, Mayjen TNI (Purn) Leonard, di Jakarta, Kamis, 21 Maret 2019.

Setelah lolos dalam tahap pengujian di Kementerian Perhubungan, prototipe bus listrik itu akan diajukan ke Kementerian Perindustrian untuk mendapatkan lisensi produksi.

Prototipe ketiga itu dipamerkan dalam ajang Busworld South East Asia 2019 di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta pada 20-22 Maret.

Leonard mengatakan bus listrik MAB juga akan diuji coba di jalanan Jakarta sebagai bagian kerja sama dengan PT Transportasi Jakarta (PT Transjakarta).

"Proses administrasinya sudah dimulai secara simultan. Kalau Transjakarta menghendaki, kami akan menyiapkan unitnya," katanya.

Bahan baku karoseri, badan mobil, hingga desain sasis, menurut Leonard, sudah dikerjakan dengan bahan baku dalam negeri. Hanya baterai, motor listrik, dan pengendali (controller) yang masih harus dipasok dari negara lain.

"Kami masih bekerja sama dengan mitra kami di luar negeri. Dalam proses itu, kami menghendaki transfer of knowlegde. Kami juga berkerja sama dengan Institut Teknologi Bandung sehingga membuka peluang untuk memproduksi komponen dalam negeri yang jauh lebih layak," ujarnya.

Bus listrik MAB berkapasitas 24 kursi dengan empat tempat duduk prioritas disabilitas, ibu hamil, serta lansia. Secara keseluruhan bus itu punya kapasitas 60 penumpang.

Bus itu berbekal mesin Lithium Fenno Phosphabe (LiFePo) dengan daya 259 kWh, serta tenaga maksimum 268 hp. Interval pengisian baterai adalah tiga jam dengan jarak jelajah sejauh 300 km untuk sekali pengisian. Satu bus dipasangi 12 baterai.

"Kami membatasi kecepatan laju bus 70 km/jam meskipun kecepatan bus bisa mencapai lebih dari 100 km/jam. Torsinya udah 0 karena tidak menggunakan bahan bakar dan ketika pedal ditekan bisa langsung melaju," katanya.

Keuntungan penggunaan bus listrik selain mengurangi emisi adalah biaya operasional yang lebih hemat.

Leonard mencontohkan jika satu kilometer perjalanan bus berbahan bakar fosil membutuhkan biaya Rp100 ribu, bus listrik hanya berbiaya Rp30 ribu.

Terkait limbah baterai, piranti yang sudah tidak terpakai bisa digunakan untuk keperluan industri rumah tangga, misalnya solar sel dan berbagai kebutuhan lainnya.

"Kami akan mengganti baterai yang sudah berusia lima tahun. Laju bus pun akan lebih halus dan tidak berisik," kata dia.

Namun, bus listrik masih menyisakan persoalan yang harus dipenuhi seperti stasiun pengisian daya listrik.

Direktur Utama PT Transjakarta Agung Wicaksono mengatakan stasiun pengisian daya untuk bus listrik hanya terdapat dua stasiun di kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur.

"Sudah ada dua unit pengisian daya (charging station) bus listrik yang merupakan hasil kerja sama dengan operator di pool mereka di Pulo Gadung, Jakarta Timur," kata Agung.


Pangkas 48% polusi Kota Shenzhen 

Sebelum memikirkan bagaimana cara Transjakarta bertransformasi menjadi kendaraan listrik, Anda bisa menengok China yang sukses mengoperasikan transportasi massal tanpa mesin bakar itu di kota Shenzhen.

Dilansir City Lab, dari 425.000 layanan bus listrik yang beroperasi di dunia, 99 persen di antaranya berada di China, didorong upaya kota industri Shenzhen untuk mengurangi polusi. Perusahaan dan pabrik di kota itu secara bertahap mengoperasikan bus listrik sebagai armada utama dalam beberapa tahun belakangan.

Dilansir Guardian, Shenzhen yang menyandang gelar Kota Nelayan hingga 1980, menjelma jadi zona industri yang berpolutan, sehingga pemerintah berharap pengoperasian bus listrik dapat memangkas 48 persen emisi CO2 pada 2020. Grup Bus Shenzhen bahkan menaksir mampu menghemat 160.000 ton batubara per tahun dan mengurangi emisi CO2 tahunan hingga 440.000 ton.

Awalnya, pengoperasian bus listrik mencemaskan sejumlah kalangan, misalnya orang tua dengan anak-anak atau lansia. Karena bus listrik tanpa mesin bakar, bergerak dengan motor listrik berarti berjalan senyap sehingga berpotensi membahayakan pengguna jalan yang tidak mendengar suara mesin. Apalagi lalulintas di China juga padat.

"Faktanya, kami menerima permintaan untuk membuat suara buatan pada bus sehingga orang dapat mendengarnya. Kami mempertimbangkannya, " kata Joseph Ma, wakil manajer umum Grup Bus Shenzhen, dilansir Guardian

Total terminal pengisian ada 180, dengan terminal Futian menjadi yang terbesar karena dapat mengisi daya 20 bus secara berbarengan.

Setelah ekosistem kendaraan listrik siap, mulai dari kebijakan pemerintah kota, fasilitas, produk hingga subsidi, Kota Shenzhen kemudian mengembangkan pengoperasian kendaraan listrik pada armada taksi, yang kini sudah berjumlah 22.000 unit.

"Untuk armada taksi, kami tidak terlalu memusingkan titik pengisian listrik, karena taksi rutenya tidak tetap dan bisa melintasi semua tempat," kata dia.

Hingga saat ini, setidaknya ada 30 kota di China yang menggunakan angkutan umum terelektrifikasi.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar