Selasa, 16 Juli 2019

Mahasiswa Mengubah Suara Bising Menjadi Energi



[16 Jul] Enam orang mahasiswa dari dua universitas mencoba mengubah suara bising menjadi energi terbarukan. Yaitu yang pertama dari Untag Surabaya, dan yang kedua dari Undip Yogyakarta.


Dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag), Surabaya

Tiga mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya merubah terik panas, hujan, suara bising, hingga hentakan kaki menjadi energi baru dan terbarukan (EBT) yang menghasilkan daya listrik.

Ketiganya adalah Khusnul Maulana Ibrahim, Muhammad Fadhil Savaldo Putra, dan Badriyatus Sholihah. Mereka menggagas ide Pembangkit Listrik Tenaga Raja Singa (sinar matahari, hujan, bising dan tekanan) dengan metode fuzzy logic berbasis android.

Ketua tim Raja Singa, Khusnul, mengaku mendapat inspirasi dari keadaan masyarakat saat ini. Energi listrik menjadi kebutuhan sehari-hari dengan hampir semua peralatan rumah tangga membutuhkan sumber listrik.

Menurutnya, pembangkit listrik di Indonesia sendiri masih mengandalkan fosil sebagai bahan bakar. Padahal, banyak diketahui bahwa fosil merupakan Sumber Daya Alam (SDA) yang tidak dapat diperbarui.

"Indonesia sendiri memiliki dua musim, kemarau dan penghujan. Mungkin banyak yang sudah menggunakan panel surya sebagai penghasil listrik, tapi kalau sedang musim hujan bagaimana? Tidak bisa dipakai," ujar Khusnul, Senin (15/7/2019).

Inisiatif membuat pembangkit listrik tenaga hujan yang memanfaatkan piezoelektrik mampu mengkonversikan energi yang berasal dari suara bising baik dari suara hujan, suara keramaian, dan hentakan kaki. Sedangkan energi matahari menggunakan panel surya.

"Sistem desain yang kita buat itu seperti rangkaian sirkuit. Pada panel surya, energi cahaya matahari yang ditangkap akan dimaksimalkan dengan Maximum Power Point Tracker (MPPT)," jelas Khusnul.

Sementara pada pembangkit tenaga hujan, bising, dan tekanan yang menggunakan piezoelektrik disusun secara seri yang kemudian diberi boost converter. Tujuannya untuk mengalikan atau melipat gandakan tegangan dari yang dihasilkan.

"Semua tegangan dari masing-masing sumber pembangkit diolah di rangkaian komparator yang selanjutnya masuk control charger dan penyimpanan aki," imbuh Khusnul.

Untuk mengetahui sinyal tegangan yang ada di komparator bisa melalui aplikasi android yang juga mereka beri nama Raja Singa.

"Kita menggunakan metode fuzzy logic. Jadi kita bisa memantau tegangan yang dihasilkan melalui android menggunakan jaringan bluetooth. Jadi selama ada aplikasi dan bluetooth, kita bisa cek," jelas mahasiswa jurusan Teknik Elektro ini.

Khusnul berharap inovasi ini mendapatkan dana hibah dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Karsa Cipta Kemenristekdikti agar dapat diaplikasikan di taman kota. Karena selain sumber energi juga telah tersedia di area taman juga dapat membantu menghemat penggunaan listrik.

"Desain awal sendiri sebenarnya memang untuk penggunaan taman. Terlebih Taman Bungkul Surabaya, itu cocok sekali. Jadi nanti warga bisa bersantai di bawah atap tempat duduk yang disekitarnya sudah terpasang Raja Singa ini. Bisa untuk charge handphone maupun mengaliri lampu taman pada malam harinya tanpa menggunakan listrik," tukasnya.


Dari Universitas Diponegoro, Yogyakarta

Tiga mahasiswa asal Universitas Diponegoro (UNDIP) mampu mengubah suara bising menjadi energi listrik. Rifki Rokhanudin, Ragil Adi Nugroho dan Yudha Cindy Pratama menciptakan alat yang mampu mengubah kebisingan di Bandara menjadi energi listrik yang diberi nama Sinting (Sound Energy Harvesting). Dikutip dari laman Kemenristekdikti, Sabtu (3/8/2019) ketiganya merancang alat tersebut melalui penelitian Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta.

Lebih lanjut, Sinting dirancang dengan prinsip induksi elektromagnetik seperti halnya microphone. Akan tetapi kelemahan dari microphone adalah arus yang dihasilkan sangat kecil. Oleh sebab itu, Sinting disematkan beberapa teknologi tambahan untuk memperkuat arus listrik yang dihasilkan.

Cara kerja Sinting adalah kebisingan ditangkap oleh reflektor parabola kemudian difokuskan pada sistem tranduser yang kemudian memicu terjadinya induksi elektromagnetik. Dari induksi elektromagnetik inilah dihasilkan energi listrik. Alat ini mampu menghasilkan tegangan mencapai 11,14 volt pada intensitas suara dari kebisingan sebesar 108,4 dBA.

Perancangan Sinting membutuhkan waktu selama kurang lebih tiga bulan. Alat dibuat di Laboratorium Fisika Elektronika dan Instrumentasi UNDIP dengan bantuan dosen pembimbing Dr. Catur Edi Widodo, M.T. Kemenristekdikti berharap hasil penelitian tiga mahasiswa tersebut dapat dikembangkan dalam skala implementasi dan dipasang di beberapa bandara di Indonesia.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar