Komunitas Kendaraan Listrik Indonesia




Jumat, 10 Mei 2019

Empat Pabrik Baterai untuk Mobil Listrik di Indonesia



[10 May] Industri nikel Tanah Air mulai akan diramaikan dengan aktivitas pembangunan pabrik kimia, terutama untuk memproduksi baterai bagi kendaraan listrik atau baterai electric vehicle (EV).

Setidaknya ada empat pabrik yang dijadwalkan akan dibangun, mayoritas diprakarsai oleh perusahaan asal Negeri Tiongkok.

Dalam laporan Reuters, empat pabrik kimia tersebut tersebar di beberapa wilayah, dari Sulawesi hingga Maluku.

Pertama, ada Tsinghan Group asal China yang memimpin konsorsium investor untuk membangun pabrik kimia di Morowali (Sulawesi Tengah) dan pabrik kedua yakni di Pelabuhan Weda (Maluku Utara).

Pembangunan pabrik di Morowali diestimasikan akan menghabiskan dana sekitar US$ 700 juta atau setara dengan Rp 9,94 triliun (asumsi kurs Rp 14.200/US$) dan memakan waktu sekitar 16-18 bulan.

Pabrik berikutnya yakni di Pulai Obi, Maluku Utara, yang dikerjakan oleh perusahaan patungan antara Grup Harita dan perusahaan asal China Ningbo Lygend. Pabrik ini diharapkan dapat beroperasi secara komersil pada Desember 2020 dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 96.000 ton untuk campuran endapan hidroksida kobalt dan nikel

Pabrik terakhir yakni di Pomalaa (Sulawesi Selatan) yang akan dibangun oleh PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan perusahaan Jepang Sumitomo Metal Mining Co Ltd. Saat ini kedua perusahaan sedang dalam tahap feasibility study yang akan memakan waktu 1-2 tahun.

Tingginya minat investor membangun pabrik dengan teknologi peleburan asam bertekanan tinggi (high pressure acid leach/HPAL) ini karena didorong besarnya peluang permintaan baterai EV di Indonesia.

Apalagi, Indonesia yang saat ini berada di posisi kedua sebagai produsen mobil di Asia Tenggara, menargetkan 20% produksi kendaraan nasional pada tahun 2025 haruslah kendaraan listrik. Bahkan pemerintah menargetkan bisa menjadi salah satu pemain utama dalam industri kendaraan listrik global.

Pemerintah Indonesia juga sudah meneken perjanjian kerja sama produksi dengan Hyundai Motor Company asal Korea Selatan dan Mitsubishi Motors dari Jepang.

Melansir Reuters, Hyundai berencana memproduksi kendaraan listrik sebagai bagian dari investasi perusahaan di Indonesia dengan total investasi sebesar U$ 880 juta atau sekitar Rp 12,5 triliun.

Selain itu, operator taksi, PT Blue Bird Tbk (BIRD) yang saat ini sudah memiliki 30 kendaraan listrik, juga berencana memperluas proporsi kendaraan listrik dalam armadanya mencapai 20-30%.

Tak hanya Bluer Bird, PT Pertamina (Persero) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga sudah melakukan kerja sama untuk memproduksi baterai kendaraan listrik. Dalam beberapa tahun belakangan, ANTM bahkan sudah gencar mendirikan pabrik produksi nikel. Tahun lalu, produksi nikel perusahaan naik 67% YoY.

Akan tetapi, para analis menyampaikan bahwa pelaku pasar diharapkan tidak memiliki ekspektasi besar atas rencana pembangunan pabrik tersebut. Pasalnya, pabrik dengan teknologi HPAL rawan akan lonjakan biaya dan hambatan teknis.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar