Komunitas Kendaraan Listrik Indonesia




Senin, 06 Mei 2019

Asia Penguasa Industri Baterai Kendaraan Listrik Dunia



[5 Jun] Produksi global baterai buat mobil listrik saat ini terkonsentrasi di Asia, dengan perusahaan China, Jepang, dan Korea Selatan mendominasi sektor ini. Perusahaan-perusahaan itu bahkan sudah membangun pabrik di Eropa untuk melestarikan supremasi.

Eropa kini sedang berusaha melawan balik, dimotori oleh Prancis dan Jerman, yang keduanya telah mengatakan bakal membentuk aliansi untuk mengembangkan baterai generasi terbaru. Tujuannya tentu saja mengimbangi dominasi Asia.

Baterai Lithium-ion merupakan komponen krusial pada kendaraan listrik. Meski begitu hanya sedikit perusahaan yang berani memproduksinya, mengingat biaya produksinya sangat tinggi dan saat ini permintaannya masih terbatas.

Di China, di mana setengah mobil listrik dunia dijual, mengharuskan pemanufaktur menggunakan baterai rakitan lokal. China juga merupakan tempat dua per tiga kapasitas global produksi sel lithium-ion buat baterai.

Berdasarkan informasi AFP dari Center for Automotive Research (CAR), hanya perusahaan asal Asia yang berada di daftar 10 besar industri baterai kendaraan listrik. Paling besar adalah Contemporary Amperex Technology (CATL) asal China yang menguasai 23 persen produksi global pada 2018, lantas diikuti Panasonic dari Jepang dengan penguasaan 22 persen.

BYD dari China menguasai 13 persen dan merupakan satu-satunya produsen mobil yang juga memproduksi baterai.

Wakil dari Korea Selatan, LG Chem, memiliki 10 persen, serta kompatriotnya, Samsung SDI, menguasai 5,5 persen.

Di lain sisi, perusahaan asal Eropa hanya kebagian satu persen dari produksi global. Amerika Serikat juga terhitung pemain kecil walau sudah punya Gigafactory hasil kolaborasi Tesla dengan Panasonic.


China Kuasai Bahan Baku 

Dominasi China di industri baterai juga sampai ke bahan baku pembuatan baterai, yakni lithium dan cobalt.

Menurut Bloomberg, perusahaan asal China, Ganfeng dan Tianqi, mengontrol 17 persen dan 12 persen produksi lithium berkat investasi mereka di tambang di Australia dan Amerika Selatan.

Tianqi membeli 24 persen saham perusahaan penambangan asal Chile, SQM, seharga US$4,1 miliar pada Desember. Tianqi bersama perusahaan asal Amerika Serikat, Albemarle, juga mengontrol area penambangan di Australia.

Perusahaan China juga menguasai setidaknya setengah ekstraksi cobalt di Kongo. Sekitar 70 persen cobalt saat ini dihasilkan Kongo.

CATL, perusahaan baterai terbesar di dunia asal China, telah menginvestasikan 240 juta euro untuk membangun pabrik di Jerman yang akan memasok ke BMW pada 2022. Sementara itu LG Chem yang memiliki pabrik di Polandia telah menjadi penyuplai buat Daimler, Volvo, Audi, dan Renault.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar