Home » , , » Nissan Genjot Produksi Mobil Listrik

Nissan Genjot Produksi Mobil Listrik

[18 Mar] Nissan Motor Co. berpeluang melepas lebih banyak mobil listrik dibanding perkiraan sebelumnya. Kemungkinan ini didorong bertambahnya negara yang mengaplikasikan energi alternatif bahan bakar fosil, sebut Bill Hayes, wakil presiden unit bisnis kendaraan listrik Nissan pada Sabtu.

“Kami optimistis target akan tercapai. Kami yakin bisa meraihnya, lebih cepat dari 2020,” kata Hayes pada suatu wawancara di sela-sela pameran mobil listrik. Pameran diselenggarakan pemerintah Pulau Jeju, Korea Selatan (Korsel). Nissan memperkenalkan mobil listrik terlaris mereka, Leaf, dalam pameran di resor Pulau Jeju. Produsen mobil itu sudah menjual lebih dari 100 ribu unit Leaf sejak diluncurkan pada 2010.

Produsen lain, seperti Bayerische Motoren Werke AG, General Motors Co. dan Renault SA, juga memamerkan model mobil elektrik mereka dalam pameran yang sama. Nissan berharap dapat menjual Leaf di Korsel pada paruh kedua 2014. “Hal menarik soal mobil listrik adalah, sekali seseorang memilikinya, mereka tak bakal kembali ke mobil bermesin bahan bakar dalam. Fenomena ini menyebar dengan cepat. Karena itulah, kami akan meraih target penjualan lebih cepat,” paparnya.

Chief executive Nissan, Carlos Ghosn—yang juga pemimpin Renault, rekanan Nissan di Perancis—bulan lalu menyatakan, perusahaannya kembali mendorong ambisi penjualan 1,5 juta unit mobil listrik sedunia selama empat tahun hingga 2020. Dorongan menguat di tengah-tengah keluhan konsumen soal jarak pendek mobil listrik ketimbang mesin bahan bakar dalam, kurangnya infrastruktur pengisian bahan bakar serta harga yang relatif tinggi.

Tetap saja, potensi pasar mobil ramah lingkungan atau kendaraan hijau cenderung besar. Terlebih, produsen sedunia didesak untuk lekas menyesuaikan produk mereka dengan standar emisi, kata Hayes. “Kami melihat lebih banyak pemerintah terlibat dalam diskusi mobil listrik. Ini menggembirakan,” paparnya. Ghosn mengatakan, Nissan sedang memburu pasar negara berkembang guna menyetir pertumbuhan mobil listrik, penyokong dominasi mereka di Amerika Serikat dan Kanada. “Kami masih berdiskusi dengan beberapa negara di Asia dan Amerika Selatan. Namun, kami belum bisa menjabarkan negara mana saja,” sahut Ghosn.
Februari lalu, ia menandatangani kesepakatan awal untuk memasok armada Nissan Leaf bertenaga baterai ke Kerajaan Bhutan di kawasan Himalaya. Menurut Ghosn, Renault juga sedang mempertimbangkan produksi mobil listrik di Cina, salah satu cara Nissan mendobrak pasar Negeri Tirai Bambu. Renault memiliki 40% saham perusahaan asal Jepang itu.

Sumber: Wall Street Journal
Share this article :

0 comments :

Post a Comment



English French German Spain Italian Dutch




 
-->