Home » , , , » Belitung Miliki PLT Biogas 1.2MW

Belitung Miliki PLT Biogas 1.2MW

[15 Jan] Masyarakat Kabupaten Belitung Timur (Beltim) dan Pulau Belitung pantas berbangga. Sebab, untuk saat ini, di Pulau Laskar Pelangi menjadi lokasi pertama dan satu-satunya berdiri Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLT Biogas) ada di Indonesia.

PLT Biogas berkapasitas 1,2 MW ini diresmikan oleh Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana, Bupati Beltim Basuri Tjahaya Purnama, GM PT PLN Regional Bangka Belitung Ida Bagus Ari Wardana, Ketua DPRD Jafri dan Presiden Komisaris PT Austindo Aufwind New Energy (AANE) George S Tahija. Peresmian dilakukan di lokasi PLT Biogas di Desa Jangkang, Kecamatan Dendang, Beltim, Sabtu (11/1), pekan lalu.

Rida Mulyana mengatakan, PLT Biogas ini merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia saat ini dengan menggunakan limbah sawit milik PT.Sahabat Mewah dan Makmur (PT. SMM). “Ini merupakan yang pertama di Indonesia Independent Power Producer (IPP,Red) untuk penggunaan biogas. Dan juga pengembangan biomassa dari limbah sawit. Jadi ada dua nanitnya, yang pertama di Indonesia ada di sini (Belitung,Red),” ungkap Rida Mulyana.

Menurut Rida, saat ini, pemanfaatan energi baru dan terbarukan masih sangat kecil, hanya sebesar 5 persen dari total bauran energi nasional. Padahal, potensi energi terbarukan cukup besar. Sejumlah sumber energi itu yakni panas bumi yang mampu menghasilkan listrik 29 GW, Biomasa 49 GW, tenaga air 76 GW, energi surya, dan energi angin yang ketersediannya menyebar ke seluruh Indonesia.

Untuk itu, Kementerian ESDM melalui Dirjen EBTKE dan PT.PLN serta seluruh pemangku kepentingan akan senantiasa berperan aktif secara sinergis, konsisten, dan maksimal dalam upaya penyediaan energi listrik yang berbasis energi terbarukan (Renewable Energy). Langkah ini dilakukan secara berkelanjutan untuk mendukung ketahanan energi nasional dan sekaligus berkontribusi aktif menjaga dan memperbaiki kualitas lingkungan hidup.

Rida mengatakan pembangkit listrik ini dapat mengurangi subsidi energi di Indonesia, menghasilkan listrik dan dan menjual PLN dengan harga jauh lebih murah, dibandingkan dengan listrik dari pembangkit listrik diesel menggunakan solar, ujarnya.

Dirut PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT), Suwito Anggoro mengatakan, PLT Biogas oleh PT AANE memanfaatkan gas metan dari limbah sawit. Biaya produksi listrik biogas ini lebih murah ketimbang pembangkit listrik diesel PLN di Belitung mencapai Rp 3.300/kwh. Suplai listrik PLT Biogas PT AANE ke jaringan PLN mulai dari Simpang Pesak, Beltim hingga ke Marakas, Tanjungpandan. “Kami pilih Belitung Timur untuk investasi PTLB, karena infrastruktur dan akses sudah ada, di samping dukungan pemerintah daerah dan seluruh lapisan masyarakat,” ujar Suwito.

Suwito juga menambahkan AANE merupakan IPP yang mengoperasikan pusat PLTB dan memasarkan komersial. Seluruh pasokan listrik yang diproduksi AANE disalurkan ke jaringan distribusi PT. PLN (Persero) dan dibeli oleh PLN sesuai dengan "Power Purchase Agreement" dengan harga Rp 975 per kWh. Penjualan listrik yang disesuaikan dengan ketentuan Feed-in Tariff untuk biogas berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No.4 tahun 2012, tambah Suwito.

Dijelaskan Suwito, PT.ANJT merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pangan dan energi terbarukan. Perusahaan ini memiliki perkebunan sawit yang terletak di Sumatera, Kalimantan, dan Papua dengan total luas landbank 139.038 hektar dan total area tertanam 43.050 hektar (per 30 September 2013). Sementara PT. AANE merupakan anak perusahaan dari PT.ANJT yang didirikan pada tahun 2008 dan bergerak di bidang energi terbarukan. AANE memiliki, mengoperasikan, dan membangun pabrik biogas.

Sementara itu Bupati Beltim Basuri T Purnama mengharapkan dari Kementerian ESDM agar dapat menaikan lagi harga beli listrik dari perusahaan pembangkit swasta, khususnya yang menggunakan negeri terbarukan. Dengan begitu, semakin banyak investor yang bangun pembangkit listrik menggunakan energi terbarukan. “Demikian demikian, beban negara menanggung subsidi semakin berkurang,’’ tegasnya

Sumber: belitong ekspres
Share this article :

3 comments :

  1. keren , subhanallah

    kalau boleh tau, slurry nya nanti diapakan ya om?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Slurry menjadi pupuk matang siap pakai, Pak Sandi. Nanti petani jadi tidak perlu rebutan jatah pupuk subsidi lagi seperti yang sekarang terjadi :)

      Delete



English French German Spain Italian Dutch




 
-->