Home » » Empat Puluh Persen Pencemaran Dari Kendaraan

Empat Puluh Persen Pencemaran Dari Kendaraan

[20 Mei] Kementerian Riset dan Teknologi meluncurkan prototipe mobil listrik nasional di Yogyakarta, Senin, 20 Mei 2013. Kendaraan berkapasitas 15 penumpang produk penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini dioperasikan di Taman Pintar sebagai angkutan wisatawan keliling keraton dan alun-alun.

Menteri Negara Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan, kendaraan itu dibuat sesuai dengan arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada peringatan hari teknologi nasional di Bandung, setahun lalu. Tujuannya membuat inovasi mobil ramah lingkungan berbiaya rendah (low cost green car). “Dan kalau bisa itu angkutan umum,” dia menceritakan gagasan mobil yang diluncurkan di Yogyakarta itu.

Kendaraan listrik itu berupa micro bus bernomor polisi D-7091-C. Mengandalkan baterai litium 320 VDC 160 Ah seberat 550 kilogram, kendaraan itu bisa melaju hingga kecepatan maksimal 100 kilometer per jam. Untuk sekali pengisian baterai, dari kosong hingga penuh, dibutuhkan waktu pengisian 30 menit dan bisa menempuh perjalanan maksimal 115 kilometer. Namun, karena kendaraan dilengkapi pendingin udara, kondisi baterai penuh itu diperkirakan menjangkau 80-100 kilometer.

Pembuatan kendaraan ini menelan biaya penelitian sebesar Rp 1,8 miliar. Sebanyak 1,2 miliar di antaranya digunakan sebagai biaya produksi. Selama beroperasi di Yogyakarta, kondisi mobil akan dipantau dan dievaluasi kekurangannya sebelum ditawarkan ke pasar. Salah satu kelemahan kendaraan itu terletak pada baterai. Penelitian masih dikembangkan untuk menemukan bentuk baterai kecil yang memiliki daya simpan listrik besar. “Hanya satu yang belum kami kuasai sepenuhnya, yaitu baterai,” kata dia.

Kendaraan itu, kata dia, bukan satu-satunya prototipe kendaraan listrik yang dikembangkan. LIPI masih membuat dua prototipe lain. Satu kendaraan berupa micro bus yang didesain sebagai tempat pertemuan mobil dan satu lainnya berupa sedan.

Ia mengatakan, agar dunia industri tertarik memproduksi massal kendaraan listrik semacam ini, Kementerian berusaha mengeluarkan sejumlah kebijakan, seperti keringanan pajak. “Masalahnya sama,” kata dia. Dia membandingkan dengan kendaraan berbahan bakar minyak yang sekarang beredar di pasar. “Kami dapat pajak, tapi mereka keluarkan pencemaran.”

Akibatnya, pemerintah kembali mengeluarkan uang untuk membersihkan pencemaran yang ditimbulkan. “Empat puluh persen pencemaran di Jakarta berasal dari kendaraan,” kata dia.

Koordinator peneliti mobil listrik LIPI, Abdul Hapid, mengatakan, mobil listrik merupakan jawaban atas semua persoalan kendaraan konvensional. Tak harus mengandalkan energi minyak, semua jenis sumber daya alam di setiap daerah bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik penggerak. Selain itu, “Mobil listrik nol emisi,” kata dia.

Prototipe mobil listrik yang diluncurkan di Yogyakarta itu diakui belum sepenuhnya sempurna. Menurut dia, diharapkan setahun ke depan, penyempurnaan bisa dilakukan dan hasilnya bisa ditawarkan ke industri.

sumber: tempo
Share this article :

0 comments :

Post a Comment



English French German Spain Italian Dutch




 
-->